Pengusaha Sukses = Hukum Sunnatullah;Hukum Newton

Jumat, 11 Juni 2010 |

Rosulullah Sang Pengusaha Sukses yakin dengan ayat ini ;
QS 48:23. Sebagai suatu sunnatullah[1403] yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.
[1403]. Sunnatullah yaitu hukum Allah yang telah ditetapkanNya.

Artinya cukup dengan perumpamaan yang satu ini !!!

HUKUM NEWTON I disebut juga hukum kelembaman (Inersia).

Sifat lembam benda adalah sifat mempertahankan keadaannya, yaitu keadaan tetap diam atau keaduan tetap bergerak beraturan.

DEFINISI HUKUM NEWTON I :
Setiap benda akan tetap bergerak lurus beraturan atau tetap dalam keadaan diam jika tidak ada resultan
gaya (F) yang bekerja pada benda itu, jadi:
S F = 0 a = 0 karena v=0 (diam), atau v= konstan (GLB)

HUKUM NEWTON II
"Benda yang mendapat gaya akan bergerak dipercepat. Makin besar Gayanya makin besar Percepatannya"
a = F/m
S F = m a
S F = jumlah gaya-gaya pada benda
m = massa benda
a = percepatan benda
Rumus ini sangat penting karena pada hampir semna persoalan gerak {mendatar/translasi (GLBB) dan melingkar (GMB/GMBB)} yang berhubungan dengan percepatan den massa benda dapat diselesaikan dengan rumus tersebut.

DEFINISI HUKUM NEWTON III:
Jika suatu benda mengerjakan gaya pada benda kedua maka benda kedua tersebut mengerjakan juga gaya pada benda pertama, yang besar gayanya = gaya yang diterima tetapi berlawanan arah. Perlu diperhatikan bahwa kedua gaya tersebut harus bekerja pada dua benda yang berlainan.

F aksi = - F reaksi N dan T1 = aksi reaksi (bekerja pada dua benda)

T2 dan W = bukan aksi reaksi (bekerja pada tiga benda)

"Benda yang diam akan cenderung diam, benda yang bergerak akan cenderung bergerak."

Lagi-lagi tulisan Fauzi Rachmanto, dari bukunya "Santaplah Makanan Anjing Anda Sendiri" menggugah saya. Inersia ini saya rasakan sekali dari pembicaraan orang-orang di sekitar saya.

Tidak sedikit orang-orang di sekitar saya yang "hidup dalam zona nyaman". Maksudnya, merasa nyaman dengan kondisinya sekarang dan merasa tidak perlu untuk berusaha lebih keras lagi, apalagi untuk "lompat" ke taraf hidup yang lebih nyaman lagi. Padahal, bukan berarti merasa nyaman ini artinya bebas dari keluh kesah dan gerutuan.

Biaya hidup yang makin tinggi, biaya pendidikan yang mahal, tarif listrik yang akan naik, hanyalah salah sekian dari banyaknya keluh kesah banyak orang yang saya kenal. Tapi, ketika saya mulai berbicara tentang penyelesaiannya, sanggahan dan alasan yang dikeluarkan akan jauh lebih banyak.

Saya memang tidak punya kuasa apa-apa untuk mengatur inflasi kebutuhan hidup, atau biaya pendidikan, atau tarif listrik. Tapi yang saya tahu, di negeri ini, naiknya biaya kebutuhan hidup sudah merupakan hal yang wajar terjadi, bahkan mungkin dari sejak negeri ini merdeka.

Yang bisa dilakukan tidak lain adalah menambah penghasilan kita, sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga-harga.
Soal menambah penghasilan, tentunya ada beberapa jalan:

1. Mendapatkan penghasilan kedua dari bekerja, entah suami yang mengambil pekerjaan kedua atau istri. Tapi biasanya ditanggapi dengan pernyataan, "Zaman sekarang susah cari kerja. Apalagi udah nggak muda lagi. Kalah dong sama yang baru lulus."

OK. Kalau begitu, bagaimana kalau yang ini ?

2. Memulai usaha sendiri.

Nah, biasanya ditanggapi dengan, "Mau usaha apa mbak ? Saya kan nggak punya modal. "
Padahal, ada loh usaha yang modalnya cuma butuh puluhan ribu rupiah saja. Tidak perlu menyediakan stok barang, cukup memperlihatkan katalog ke calon pelanggan. Tapi... tetap saja tanggapannya bernada negatif : "Wah, saya mau ngasih katalog ke siapa mbak ? Orang-orang di sekitar saya, ekonominya pas-pasan semua... "

"Lagi pula, mana ada waktu mbak, saya mesti ngurus anak-anak saya masih kecil-kecil. Tahu sendiri kan, tugas rumah tangga itu nggak ada habis-habisnya..."atau, "Saya seharian kerja mbak, pergi pagi pulang malam. Pulang ke rumah sudah capek... padahal masih harus ngasih perhatian ke anak-anak." "Dan lagi, saya nggak bisa jualan mbak. Nggak berbakat nawar-nawarin barang ke orang..."
Apalagi, begitu tahu bahwa yang saya coba tawarkan adalah peluang mendapatkan penghasilan lewat bisnis MLM. "Wah, MLM ya mbak ? Nggak deh, saya nggak ikut yang begituan... "

Ini alasan klasik, biasanya memang banyak yang sudah 'alergi' duluan sebelum mengerti cara mengerjakan yang benar. "Pasti nanti keluar duit banyak untuk tutup poin kan mbak ? Saya dengar, MLM itu cuma bikin bangkrut saja..."Disini, saya merasakan sekali : benda yang diam akan cenderung diam. Orang yang merasa sudah berada di zona nyaman, akan cenderung punya pikiran untuk tetap berada di zona nyaman, dan sulit untuk keluar.

Kadang saya berpikir, kalau memang malas untuk keluar dari zona nyaman, mengapa orang tsb tidak berusaha memuaskan dirinya sendiri ? Cukupkanlah dengan apa yang anda miliki, tak perlu berkeluh kesah. Apalagi sampai merasa iri dengan orang lain yang punya lebih.

Tapi kalau memang ingin kehidupan yang lebih membuat anda puas, siapkanlah energi untuk melompat. Buka pikiran akan kemungkinan peluang untuk mendapatkan penghasilan, dan usahakan untuk membebaskan pikiran anda dari asumsi-asumsi negatif. Memang tidak mudah dan butuh energi yang tidak sedikit. Tapi toh, ketika anda berhasil bergerak dan merasakan lebih nyamannya hidup, anda akan merasa bahwa apa yang dulu anda pikirkan hanya sebatas mental block semata.

0 komentar:

Poskan Komentar