Downline = Nyawa Berkembangnya Jaringan

Kamis, 10 Juni 2010 |

Salah satu alasan penolakan yang sering saya dengar ketika saya menawarkan peluang usaha melalui MLM adalah, "Nggak bisa cari downline... "



Hal ini tampaknya merupakan celah bagi beberapa pendiri situs money game yang marak beredar di internet. Bukan satu dua kali saya melihat iklan "dapatkan penghasilan jutaan, tanpa perlu cari downline. Usaha halal, bukan MLM." Hayah..., saya kok malah curiga kalau ada embel-embel bukan MLM...



Mendapatkan downline memang disebut-sebut sebagai "nyawa" dalam pengembangan jaringan. Dengan adanya downline, kerja anda memasarkan produk MLM menjadi terbantu. Tetapi, seperti yang juga saya alami, mengajak orang untuk menjadi downline tidaklah mudah.



Banyak orang menyangka, bahwa semakin tinggi level yang dimiliki seseorang dalam suatu jaringan MLM, maka akan semakin mudah mengajak orang masuk ke dalam jaringannya. Hanya masalahnya,

sebelum sampai ke level dengan penghasilan tinggi, tidak sedikit orang yang menyerah karena tidak kunjung mudah mendapatkan downline, terutama downline yang kompeten.



Salah satu hal yang saya lakukan untuk bisa menduplikasi ilmu orang-orang yang sudah lebih dulu sukses dalam MLM yang saya ikuti adalah membaca blog pribadi mereka. Saya sendiri bersyukur, karena berkat akses internet, saya bisa dengan mudah mempelajari keseharian leader-leader saya lewat blog. Mereka bahkan tidak segan membagi ilmunya lewat chatting, facebook, twitter maupun email. Dari sini saya tahu, bahwa meskipun seorang Diamond sudah memiliki ribuan downline, mereka masih kerap kali mendapatkan penolakan. Seorang leader pernah bercerita bahwa dia baru saja bicara di depan 30 orang prospek, dan tidak satupun yang berminat menjadi anggota.



Tentunya, punya ribuan downline adalah hasil dari berbicara pada berpuluh-puluh kali lipat lebih banyak orang. Dan tentu saja, mengalami ribuan kali penolakan.



Adam Khoo mengatakan bahwa "The Price of Being a Genius" adalah meluangkan waktu 10 ribu jam untuk melakukan suatu hal.







Anyone can be genius in something, you just have to pay a price.



Semua orang bisa menjadi jenius dalam suatu hal, anda hanya perlu membayar harganya. Masalahnya, maukah anda meluangkan waktu dan tenaga anda untuk membayar harga tersebut ?



Contohnya, Tiger Woods mulai diajar ayahnya sejak dia berusia 3 tahun. Dia berlatih 4-5 jam sehari, sehingga pada usia 21 tahun dia menjadi pegolf nomor 1 di dunia.



Hal ini juga bisa saya lihat dari keseharian orang-orang yang sukses menjalankan MLM. Kuncinya adalah konsisten berbicara tentang bisnis mereka kepada orang lain. Memang tidak setiap orang mau bergabung, tetapi usaha yang konsisten dan terus menerus tentunya akan membuahkan hasil yang manis.



Bagaimana dengan janji-janji "tidak perlu mencari downline... " yang sering diumbar di internet ? Saya sendiri akan menyarankan anda untuk meneliti dulu dengan seksama, sistem apa yang dipakai untuk mengembangkan jaringan bisnis tersebut. Kok saya curiga, yang biasanya pakai janji seperti ini, adalah salah satu bentuk money game...



0 komentar:

Poskan Komentar