Jiwa Wirausaha, Intisari MLM

Jumat, 11 Juni 2010 |

Ini suatu pernyataan menarik yang saya baca di majalah Tempo minggu lalu.







Singapura punya 7% enterpreneur, sedangkan Indonesia hanya 0,18%



Dan menurut Pak Ciputra, pendapatan per kapita Singapura 15 x lipat dibanding kita. Lalu, masih menurut Pak Ciputra, pendidikan di Indonesia itu tidak menumbuhkan jiwa enterpreneur. Tidak ada motivasi, inspirasi, apalagi latihan. Jadi, lulusan pendidikan Indonesia itu kebanyakan hanya diplot untuk jadi karyawan, bukan jadi orang yang menggaji karyawan.



Saya juga termasuk hasil dari sistem pendidikan ini. Selama sekolah, yang ada di pikiran hanya belajar yang rajin supaya lulus dengan nilai memuaskan, dan bisa diterima kerja di perusahaan dengan gaji besar.



Bukannya saya menyalahkan cara berpikir seperti ini. Tapi, kalau menurut Robert Kiyosaki, kalau mau masa tua terjamin, jangan kelamaan jadi karyawan. Selama jadi pegawai, belajarlah supaya suatu saat bisa jadi pengusaha.



Untungnya (kalau bisa disebut beruntung ya...), saya nggak betah jadi karyawan. Saya mulai berpikir untuk punya usaha sendiri. Apalagi ketika anak saya lahir, mulai deh saya merasakan "malas jadi pegawai". Soalnya, sebagai pegawai, waktu saya habis untuk ngurusin orang lain, bukannya malah ngurusin anak sendiri.



Tapi, mau jadi pengusaha itu juga bukan soal yang gampang.

Kenapa ?

Yang bisa dijadikan alasan sebenarnya banyak...



Misalnya, tidak tahu dari mana memulainya, karena dari kecil tidak pernah diajarkan untuk jadi pengusaha. Seandainya saya lahir di keluarga Bakrie, gitu... kan otomatis saya bakal diplot untuk mewarisi perusahaan... he he...



Beruntung (ya, saya memang selalu merasa beruntung !) saya ketemu dengan bisnis MLM.



Banyak orang menganggap MLM itu sesuatu yang negatif. Awalnya, saya juga merasa curiga. Tapi, setelah dipertimbangkan dengan seksama, bisnis yang saya jalankan ini justru membuat saya belajar banyak tentang bagaimana memiliki usaha sendiri.



Pertama, saya jadi tahu bahwa punya usaha sendiri itu butuh komitmen dan disiplin yang tinggi. Sebagai seorang karyawan, kita tinggal melakukan apa yang diperintahkan oleh atasan. Kalau kerjaan kita tidak beres, paling-paling dimarahi oleh atasan, tetapi belum tentu membuat perusahaan bangkrut.



Dalam berbisnis, saya dituntut proaktif dan kreatif, agar apa yang saya lakukan bisa memberikan keuntungan di masa depan. Ketika kerjaan saya tidak beres, saya akan mendapat komplain langsung dari customer, dan ini akan mempengaruhi keuntungan yang saya peroleh. Jadi, kalau saya tidak berkomitmen membuat usaha saya berhasil maka bisnis saya akan berakhir.



Lalu, saya juga belajar bagaimana menjual.

Banyak orang, ketika saya tawari untuk bergabung dengan MLM, mengatakan bahwa dia tidak bisa menjual.



Saya juga tidak punya latar belakang sebagai sales, tetapi saya sadar, dalam bisnis apa pun, komponen dasarnya adalah penjualan. Entah barang atau jasa. Sebagai karyawan pun, sebenarnya orang itu menjual jasa dan waktunya untuk perusahaan. Nah, masalahnya, bagaimana membuat penjualan yang efektif.



Berkat MLM, saya jadi banyak membaca buku-buku tentang sales & marketing. Terlebih, karena MLM yang saya ikuti bisa dijalankan secara online, saya juga punya banyak kumpulan artikel tentang internet marketing. Apalagi kelompok MLM kami sering mengadakan workshop tentang internet marketing, yang biayanya murah.



Sebenarnya kalau dipikir, apa sih yang paling menghalangi seseorang untuk jadi pebisnis yang sukses ? Kalau menurut saya, mentalnya.

Tidak mudah menjadi seseorang yang bermental ulet dan tidak gampang menyerah. Padahal kita tahu, yang namanya bisnis itu pasti ada jatuh bangunnya, tidak selamanya berjalan mulus.

Nah, ketika menjalankan bisnis sendiri, tidak semua orang bisa membangun mental yang tahan banting. Dengan bergaul sesama pebisnis MLM, saya jadi punya teman untuk sharing dan bertanya bagaimana cara menghadapi masalah. Dan tentu saja, MLM punya banyak acara untuk meningkatkan motivasi dan memberi kita inspirasi.



Apalagi buat saya, MLM yang saya jalankan ini membuat saya belajar bisnis secara langsung tanpa perlu modal yang besar. Biaya pendaftaran hanya beberapa puluh ribu rupiah saja. Saya juga tidak perlu menyediakan stok barang, sehingga tidak takut mengalami kerugian uang dalam jumlah besar. Saya juga tidak perlu memikirkan promosi produk, karena setiap bulan, pihak perusahaan sudah menyediakannya untuk saya, termasuk katalog dan brosur yang bentuknya menarik. Yang perlu saya lakukan adalah menjalankan prosedurnya saja.

0 komentar:

Poskan Komentar